Thursday, 5 November 2015

The Girl On The Train

Waktu di toko buku tanpa punya tujuan mau beli buku apa si teman malah nyuruh saya buat ambil The Girl On The Train nya Paula Hawkins dan karena juga lagi gak punya ide mau baca buku apa akhirnya beli lah saya novel thriler psikologis yang banyak tulisan review bagus di cover belakangnya itu.

The Girl On The Train bercerita dari tiga sudut pandang tokoh utamanya, Rachel yang seorang alkoholik dan sudah bercerai dari suaminya Tom, Anna yang menjadi istri Tom saat ini dan Megan yang merupakan tetangga Tom dan Anna. Rachel setiap hari naik kereta api dan melewati Blenheim Road yang merupakan daerah tempat tinggalnya dulu saat masih menikah dengan Tom, dari jendela kereta dia suka mengamati rumah-rumah sepanjang Blenheim Road terutama rumah nomor 15 karena disana tinggal sepasang suami istri yang bagi Rachel adalah pasangan yang sempurna seperti rumah tangganya yang dulu, bahkan Rachel memberi mereka nama sendiri sesuai imajinasinya, nama Jason untuk si suami dan Jess untuk si istri hingga suatu pagi dari kereta Rachel melihat Jess bersama pria lain dan keesokannya Jess yang bernama asli Megan dinyatakan hilang.

Rachel yang merasa kasihan pada Jason yang ternyata bernama Scott ingin menolong dengan memberi tahu kepolisian apa yang dilihatnya sebelum Megan hilang tapi sayangnya kesaksiannya dianggap tidak terlalu penting karena Rachel dianggap kejiwaannya tidak stabil karena alkohol.

Awal membaca novel ini saya merasa bosan karena kebanyakan hanya berisi tentang Rachel yang hidupnya berantakan gara-gara alkohol tapi setelah 150 halaman pertama saya malah gak bisa berhenti baca karena semakin banyak fakta yang ada membuat saya selalu ingin tahu apa yang sebenarnya dipikirkan Rachel,Anna dan Megan juga apa yang bakal terjadi selanjutnya. Saya baru tahu kalau ternyata pecandu alkohol bisa mengalami block out atau kehilangan ingatan atas apa-apa saja yang pernah mereka alami saat mabuk, seperti Rachel yang lupa apa yang sebenarnya dilihatnya saat malam Megan menghilang.

Membaca novel ini seperti membaca diary milik masing-masing tokoh, tidak hanya menyertakan tanggal tapi juga apa yang masing-masing tokoh ini rasakan atau pikirkan. Menurut saya Paula Hawkins berhasil menuliskan tiap hal dengan detail dan membuat pembacanya ikut larut pada apa yang dirasakan tiap tokohnya. Novel bestseller ini juga akan segera difilmkan dan saya gak sabar pingin tahu siapa cast yang bakal meranin Rachel yang depresi tapi berani itu, Megan yang terlihat sempurna tapi rapuh dan Anna yang selalu merasa benar.

No comments:

Post a Comment