Wednesday, 22 November 2017

FLATLINERS (2017)

Tiba-tiba aja si adik kirim whatsapp ngajakin nonton flatliners, disuruh liat trailernya katanya bagus diiyain aja tanpa sempet liat trailernya, jadilah dihari minggu yang mendung kita berangkat nonton, pas nyampek kok antrian tiketnya panjang banget ternyata orang-orang antri tiket thor ragnarok terus proteslah saya ke si adik kenapa kita gak nonton thor aja kan ada abang chris hemsworth yang ganteng eh dijawab dia udah nonton ya sudahlah nurut aja buat nonton flatliners tanpa bekal pengetahuan ini film apa, sutradaranya siapa, pemainnya siapa aja, si adik cuman bilang ini film tentang kehidupan setelah kematian.

Flatliners diawali dengan adegan Courtney(Elen Page) lagi menyetir sambil main hp, disebelahnya ada adiknya Tessa yang kelihatan bahagia ngeliatin pemandangan dari jendela mobil lalu braakk mobil menabrak pembatas jembatan dan jatuh ke sungai lalu 9 tahun kemudian Courtney sudah menjadi mahasiswa kedokteran tingkat akhir yang juga magang disebuah rumah sakit bareng dengan beberapa mahasiswa lainnya. 

Courtney punya obsesi tentang kehidupan setelah kematian, apa yang dilihat manusia, bagaimana rasanya dan untuk itu dia mengajak Sophie(Kiersey Clemon) teman seangkatannya yang selalu dituntut menjadi bintang kelas oleh ibunya juga Jamie(James Norton) mahasiswa ganteng anak orang kaya yang playboy. Dimalam yang sudah direncanakan mereka bertiga ke basement rumah sakit yang sudah tidak digunakan tapi masih berfungsi dengan baik, Courtney meminta Sophie dan Jamie untuk menghentikan jantungnya beberapa menit dan merekam kegiatan otaknya, Sophie awalnya menolak karena takut tak bisa membangunkan Courtney lagi tapi Jamie justru tertantang, semua berjalan sesuai prosedur yang diberikan Courtney tapi saat akan membangunkan Courtney lagi Jamie dan Sophie kesusahan sampai akhirnya menghubungi Ray(Diego Luna) dibantu Ray akhirnya Courtney tersadar, datang juga Marlo(Nina Dobrev) yang terkejut dengan eksperimen Courtney. Setelah eksperimen itu Courtney jauh lebih bisa mengingat banyak hal dari masa lalu, dia juga merasa bahagia, ini membuat teman-temannya juga ingin melakukan eksperimen kecuali Ray yang menganggap ini terlalu bahaya.

Beberapa hari setelah percobaan itu Courtney mulai dihantui, seperti ada sosok yang mengejarnya laahhhh kenapa jadi film hantu, sambil nonton sambil ngomel ke si adik sambil nutup mata. Bukan hanya Courtney tapi juga Jamie,Sophie dan Marlo seperti dihantui sosok dari masa lalu mereka. Sempet bingung apa sih sebenernya yang pingin diceritain film ini, pengalaman waktu mati suri atau rasa bersalah yang menghantui, seperti ada banyak hal yang pingin diceritain Niels Arden Oplev sebagai sutradara difilm ini tapi sayangnya malah kurang detail. Suka banget sama akting Elen Page disini dan surprise sama abang Diego Luna yang ganteng itu, terus baru tau juga kalau film ini ternyata film remake dengan judul yang sama yang rilis tahun 1990.

Tuesday, 31 October 2017

Luka hati itu memang diciptakan untuk tiap air mata yang jatuh, untuk tiap perasaan sedih yang tak punya kata penjelasan tapi Tuhan juga menciptakan waktu untuk menyembuhkan.

Tak mengapa untuk merasa sedih, sedikit berlarut-larut, siapa manusia yang tak sedih kehilangan, mungkin butuh waktu sedikit lama untuk akhirnya menerima, mungkin tiap akhir senja akan ada perdebatan menjengkelkan dihati sampai suatu pagi hatimu jauh merasa lebih baik.

Terima saja semua yang Tuhan berikan, pertemuan, sedikit tawa yang pernah dibagi, harapan yang tercipta, juga kenangan setelah kehilangan, berdoa saja semoga Tuhan tak menyisakan rasa sakit, hatimu yang secerah langit biru itu pantas untuk tiap kebahagiaan.


Rest in peace kubo,
Maaf ya aku tak pandai memahamimu.

Wednesday, 5 July 2017

Pulang

Desa itu bernama Pandanwangi, sebuah desa kecil di kabupaten Lumajang tempat saya menghabiskan masa kecil. Desa yang baru terjamah listrik saat saya masuk sekolah dasar, yang tiap halaman rumahnya terdapat pohon mangga, yang ruas jalannya belum teraspal, yang suasana paginya dipenuhi kicauan burung dan suara sapu lidi membersihkan halaman tiap rumah, yang anak-anak kecilnya masih suka bermain tanah dan akhirnya saya tinggalkan.

Pagi itu saya mengunjunginya lagi setelah hampir sepuluh tahun tak pernah berkunjung. Ada perasaan bahagia bercampur haru dan banyak pikiran tentang bagaimana desa itu sekarang selama perjalanan. Begitu sampai yang ada hanya rasa bahagia tak terungkap.

Ruas jalannya hampir semua sudah beraspal, banyak rumah yang tak lagi sama tapi pohon-pohon yang masih sama menaungi tiap halamannya walau mungkin dengan penghuni rumah yang tak lagi saya kenal, dan sepi yang menenangkan itu masih sama. Lalu rumah itu, dengan pagar tanamannya dan dua pohon mangga besar dihalaman depan serta pohon rambutan dihalaman samping, rumah untuk tiap kenangan indah masa kecil saya, kenangan tentang seorang ibu yang tiap pagi mengepang rambut saya sambil menyuapi saya lalu mengantar sekolah dengan sepeda onthel, kenangan tentang seorang bapak yang tiap sore mendengarkan siaran radio sambil menunggui saya belajar dimeja ruang tengah. Rumah itu masih sama hanya tanpa kursi panjang berwarna kuning diteras depan tempat bapak mengobrol dengan kawan sejawatnya, juga penghuni rumah yang sudah lama berganti. Saya hanya memandangi rumah yang pintunya tertutup itu.

Setelah melepas kangen dengan para tetangga saya memilih berjalan kaki kerumah seorang kawan lama, rasanya ingin mengelilingi seluruh kampung berjalan seharian sambil mengingat masa kecil. Diantar kawan saya mengunjungi rumah kawan yang lain, diantara kaburnya ingatan saya ternyata orang tua si kawan masih mengingat saya dengan jelas juga orang tua saya, kalau tidak ingat situasi mungkin saya sudah memeluk semua orang yang saya temui sambil menangis bahagia.

Sebelum pulang saya punya kesempatan masuk rumah lama saya, bertemu penghuni barunya yang juga kawan baik orang tua saya. Saya mina izin untuk berkeliling halamannya dan menangis haru dihalaman samping, ah saya selalu sentimentil tentang semua kenangan masa kecil saya.

Diperjalanan pulang ingin rasanya cepat-cepat menceritakan kunjungan saya ini ke bapak ibu, bercerita bahwa kawan-kawannya masih banyak yang sehat walau diusia senja, bercerita saya bertemu teman lama yang dulu hampir tiap hari bermain dengan saya dirumah, tapi saya sadar kita tak pernah bisa bertatap lagi jadi dalam hati saya berdoa semoga bapak ibu tahu kalau hari ini saya pulang kerumah tempat kenangan tersimpan. Rindu itu memang tak akan pernah usai.

Monday, 14 November 2016

langit biru itu membuatku mengingatmu
begitu pula pahitnya kopi disesapan akhir
juga tiap cerita dongeng yang kubaca

ternyata aku masih merindumu 

Tuesday, 23 August 2016

The Queen of The Tearling

Waktu dapet buku yang judulnya panjang ini seperti biasa saya langsung lihat halaman belakangnya, kok ngegantung berarti berseri nih terus liat cover belakangnya buat baca sinopsisnya wow tokoh utamanya perempuan, ada perang-perangnya, settingnya eropa dannnn mau difilmkan dengan pemeran utamanya Emma Watson, langsung excited buat baca The Quuen of The Tearling ini.

The Queen of The Tearling bercerita tentang Kelsea Raleigh, gadis remaja berumur 17 tahun yang dibesarkan kedua orang tua angkatnya di sebuah pondok sederhana ditengah hutan dan di didik untuk menjadi seorang ratu. Kelsea adalah pewaris kerajaan Tearling, kerajaan yang didirikan William Tear setelah berhasil melewati penyeberangan menuju Dunia Baru, sayangnya kerajaan Tearling tidak memiliki cukup sumber daya alam yang bisa diandalkan untuk mencukupi kebutuhan rakyatnya, mereka hanya mengandalkan hasil pertanian dan pohon ek yang tak seberapa, sementara tetangga mereka, kerajaan Mortmesne memiliki hasil tambang dan biji besi berlimpah yang menjadikan mereka semakin kuat apalagi dipimpin oleh Ratu Merah yang juga menguasai ilmu sihir.

Berjalannya waktu rakyat Tearling menjadi terpuruk menyebabkan kemiskinan, buta huruf dimana-mana, dan kualitas kesehatan yang semakin memburuk, rakyat Tearling harus membayar mahal jika membutuhkan tenaga dokter dari Mortmesne. Terpuruknya Tearling menyebabkan Mortmesne berusaha untuk menginvasi namun saat pemerintahan Ratu Arla, Tearling masih bisa melawan karena keteguhan sang Ratu. Setelah Ratu Arla wafat Ratu Elyssa menjadi pemimpin baru Tearling, sayangnya Ratu Elyssa tidak seberani dan sekuat Ratu Arla, dia malah menyetujui perjanjian dengan Mortmesne tentang perbudakan.

Kelsea yang saat itu masih bayi diselundupkan keluar kerajaan secara diam-diam oleh ibunya Ratu Elyssa dibantu oleh pengawal setianya Mace dengan hanya membawa dua kalung simbol kerajaan Tearling. Kelsea dititipkan kepada pasangan Carlin Glynn dan suaminya Bartholomew atau Kelsea lebih suka memanggilnya Barty, Carlin  adalah perempuan cerdas yang keras dan disiplin kepada Kelsea sementara Barty yang lebih sabar sering mengajak Kelsea keliling hutan untuk belajar sedikit ilmu bela diri atau meramu tanaman obat. Tepat setelah usianya menginjak 17 tahun ada sepasukan pengawal kerajaan yang menjemput Kelsea untuk kembali ke Istana menjalani prosesi pengangkatan menjadi Ratu dan memimpin Tearling. Perjalanan menuju Istana saja sudah penuh bahaya, ada banyak percobaan pembunuhan kepada Kelsea, saat tiba di Istana Kelsea langsung dihadapkan dengan banyak masalah, dari mulai perbudakan, masalah buta huruf, soal pamannya yang tamak, pengkhianatan pengawalnya,
banyaknya kepentingan berbagai pihak dan percobaan pembunuhan lagi.

Saya suka banget sama caranya Erika Johansen menggambarkan sosok Kelsea yang pemberani, kuat, baik, cepat mengambil keputusan tapi juga rapuh dan bukan tokoh utama perempuan yang biasanya digambarkan selalu cantik, menawan, atau banyak laki-laki ganteng jatuh hati padanya, di buku ini sekalinya Kelsea jatuh cinta kepada Flitch si pencuri malah bertepuk sebelah tangan karena Flitch bilang Kelsea bukan tipenya hehehehe. Tidak hanya bercerita dari sudut pandang Kelsea saja tapi buku ini bercerita dari banyak sudut pandang tokohnya seperti Ratu Merah yang sebenarnya juga memiliki rasa takut. Walaupun ditengah cerita sempat bingung sebenarnya ini kisah masa lampau atau malah berabad abad setelah masa kini gara-gara munculnya nama-nama pengarang seperti Tolkien atau J.K Rowling tapi itu gak berpengaruh sama keasyikan baca buku ini, The Queen of The Tearling bener-bener membikin saya jatuh cinta sama semua yang ada dibuku ini, pengarangnya jago banget ngebikin pembacanya terus penasaran siapa ayah kandungnya Kelsea tapi musti sabar nunggu seri keduanya yang belum ada versi terjemahannya.

Thursday, 11 August 2016

Me Before You (2016)



Waktu lagi liat-liat trailer film sebenernya saya gak begitu tertarik sama film ini tapi kok banyak yang bilang kalau ceritanya bagus, di adaptasi dari novel, pemeran utamanya yang ganteng dari Inggris jadilah saya nonton film ini sambil berharap bisa denger aksen Inggris dari mas yang ganteng itu.

Me Before You bercerita tentang William Traynor (Sam Claflin),laki-laki ganteng, mapan, dari keluarga kaya raya, sudah punya kekasih tapi masih tetep jadi pujaan tiap perempuan. Suatu hari saat hujan lebat Will yang sedang terburu-buru ke kantornya tertabrak sepeda motor lalu adegan beralih ke pedesaan Inggris dan kita dikenalkan dengan Louisa Clark (Emilia Clarke), gadis dengan selera fashion yang unik, baik hati, selalu ceria, punya kekasih seorang atlit lari, dari keluarga sederhana yang hangat tapi sedang mengalami kesulitan finansial karena sang ayah tidak lagi bekerja dan Louisa yang selama ini menjadi tumpuan harapan tiba-tiba dipecat dari tempat kerjanya.

Saat Louisa mendatangi agen penyalur kerja untuk mendapat pekerjaan baru dia mendapat tawaran bekerja di kastil keluarga Traynor sebagai asisten untuk merawat orang sakit dengan gaji yang tinggi dan Lou pun menerimanya, keesokannya dia menjalani interview dengan Nyonya Traynor dan langsung diterima yang membawa Lou bertemu dengan Will Traynor yang saat ini sudah lumpuh total akibat cedera tulang belakang setelah kecelakaan, Lou bekerja untuk merawat Will. Awalnya Will tidak peduli pada kehadiran Lou yang selalu berpakaian aneh dan yaaaa bisa ditebak akhirnya ada benih cinta yang tidak disadari keduanya, sayangnya kisah cinta mereka gak semulus jalan tol, ada banyak halangan yang menghadang terutama keras kepalanya mas Will itu tentang euthanasia yang mau dia jalani.

Film yang disutradarai Thea Sharrock ini di ambil dari novel berjudul sama karya Jojo Moyes, karena banyak yang bilang film ini bagus dan bisa ngebikin nangis saya jadi berekspektasi tinggi sama film ini tapi kok saya biasa aja ya waktu nonton film ini, gak ada sedih-sedihnya gitu padahal saya suka banget lho aktingnya Sam Claflin di sini, apa karena kurang jelas gimana sebenarnya karakter pemainnya atau karena ini ceritanya dari sisi Louisa aja? tapi film ini tetap manis buat ditonton, walaupun setelah nonton film ini saya malah ngomel-ngomel sendiri gara-gara pilihannya mas Will Traynor itu, kan bisa aja kan dia memperjuangkan cintanya.

Friday, 22 July 2016

Size 12 Is Not Fat

Setelah lebih sering baca cerita di wattpad dengan kategori petualangan akhirnya sekarang baca novel romantis-misteri terjemahan karangan Meg Cabot yang judulnya Size 12 Is Not Fat, awalnya saya yang cuman tau ukuran baju S,M,L,XL ini bingung seberapa sih ukuran 12 itu ternyata setelah googling baru tau kalau ukuran 12 buat orang luar itu masuk kategori gendut.

Size 12 Is Not Fat ini bercerita dari sudut pandang Heather Wells, seorang penyanyi idola remaja yang karirnya menurun drastis karena perusahaan rekaman yang menaunginya tidak mau menerima lagu karangannya sendiri, diselingkuhi pacar gantengnya yang juga seorang penyanyi populer, ayahnya masuk penjara, semua uang tabungannya dibawa kabur ibu dan managernya, sekarang bekerja di asrama New York College dan tinggal di rumah kakak mantan tunangannya bernama Cooper Cartwrigth yang seorang detektif swasta.

Awalnya saya pikir novel ini akan bercerita tentang kisah cinta si tokoh utama, masalah berat badan dan upaya untuk bangkit menjadi penyanyi populer lagi dengan lagu ciptaannya sendiri, ternyata semua itu hanya selingan diantara cerita pembunuhan yang terjadi di asrama New York College. Heather yang memiliki rasa ingin tahu tinggi dan dari awal kasus kematian sudah curiga tentang motif kematian mahasiswinya akhirnya mulai menyelidiki sendiri dengan sedikit bantuan dari Cooper Cartwright.

Saya suka cara Meg Cabot menuliskan karakter Heather Wells yang ceria, pekerja keras, baik, sedikit naif, seorang pemimpi dan yang paling penting suka makan hehehe, saya juga suka karakter Sarah dan Magda di buku ini. Kasus pembunuhan dan penyelidikan ala Heather tidak serumit novel-novel detektif lainnya, bisa dibilang ceritanya mudah dimengerti, sementara kisah cintanya lah yang cukup rumit, walaupun ini novel misteri-romantis tapi ada juga pikiran-pikiran Heather yang membuat pembacanya tersenyum. Size 12 Is Not Fat enak dibaca kecuali saat Heather bicara panjang lebar dipikirannya yang annoying menurut saya, pilihan yang pas buat dibaca sebelum tidur.