Friday, 4 September 2015

TOKYO ZODIAC MURDERS

Setelah rada bosen sama cerita vampir,setengah vampir,manusia serigala,klan ini dan klan itu lalu jatuh cinta sama Sherlock Holmes jadilah saya suka baca cerita detektif dan waktu pertama kali lihat cover buku Tokyo Zodiac Murders langsung suka,cover warna putih bersih terus ada tulisan judul warna merah sama gambar enam orang perempuan yang kehilangan beberapa bagian tubuhnya.

Novel karangan Soji Shimada ini dimulai dari cerita Kazumi Ishioka yang suka cerita detektif dan tertarik pada kasus pembunuhan yang terjadi ditahun 1936 dan belum bisa terpecahkan sampai 40 tahun kemudian,dari mulai kepolisian,detektif amatir sampai detektif kawakan berusaha memecahkan kasus ini tapi belum ada yang berhasil dan didorong rasa penasaran Kazumi Ishioka akhirnya menceritakan kasus ini ke Kiyosi Mitarai yang seorang peramal nasib,astrologi dan detektif yang eksentrik,awalnya Kiyosi Mitarai menolak tapi setelah ada seseorang yang meminta tolong untuk memecahkan kasus ini karena melibatkan keluarga si peminta tolong akhirnya Kiyosi Mitarai pun mau menangani kasus pembunuhan ini.

Berawal dari surat yang ditinggalkan oleh Heikichi Umezawa,seorang seniman nyentrik yang terobsesi pada perempuan sempurna yang diberi nama Azoth,untuk menciptakan Azoth sang seniman merunut pada pengetahuannya tentang zodiak maka dia membutuhkan potongan kepala dari perempuan berzodiak aries,dada perempuan berzodiak cancer,perut dari perempuan berzodiak virgo,pinggul dari perempuan scorpio,paha dari yang berzodiak sagitarius dan kaki dari perempuan berzodiak aquarius. Secara kebetulan ternyata peremuan-perempuan yang dibutuhkan untuk menciptakan Azoth sesuai zodiak adalah anak-anak dan keponakan Heikichi sendiri,dijelaskan juga disurat itu cara yang akan dipakai Umezawa untuk membunuh anak dan keponakannya.Sebelum pembunuhan itu terjadi,ternyata Umezawa ditemukan meninggal didalam studionya yang terkunci dari dalam.Setelah kematian Umezawa terjadilah pembunuhan Azoth yang menghebohkan seluruh Jepang saat itu. Empat puluh tahun kemudian Kiyoshi Mitarai dan Kazumi Ishioka berusaha memecahkan kasus yang pelik ini.

Sepertinya Shoji Shimada juga suka cerita detektif Sherlock Holmes,karena dibeberapa bagian dia menyelipkan cerita tentang Holmes yang memecahkan kasusnya atau cara deduksinya. Dua tokoh Kiyoshi Mitarai dan Kazumi Ishioka kalau menurut saya juga pasti terinspirasi dari Sherlock Holmes dan Dr. Watson,kalau di cerita Sherlock yang suka menulis kasusnya adalah Dr. Watson sementara di novel ini yang suka menuliskan kasusnya adalah Kazumi Ishioka. Novel ini berhasil ngebikin saya ga berhenti baca sampai selesai karena selalu penasaran dengan siapa sih sebenarnya yang ada dibalik semua pembunuhan itu dan endingnya bikin melongo,kok bisa ya?wow keren banget si tokoh pembunuh ini,puas banget baca novel ini yang terbit pertama kali dijepang tahun 1987
dan kayaknya saya masih akan hunting novel detektif lagi.

No comments:

Post a Comment