Monday, 17 February 2014

sampai suatu ketika

aku mencintaimu seperti rasa kopi
yang pahit dan manisnya bercampur

menerimamu berlabuh dihatiku
membiarkan namamu tinggal dihatiku

caramu memandangku sungguh manis
tawamu tiap jeda ceritaku sangat romantis

kau dengan baik hatinya menerima keegoisanku
dengan tenangnya tidak peduli kekuranganku


kau yang dengan sedikit galak memintaku untuk dewasa
kau yang tak pernah lelah mengusap airmataku sambil mengomel tentang rapuhnya aku

aku adalah oksigen bagimu,begitu kau katakan padaku
kau adalah matahari yang perkasa bagiku,seperti itu aku katakan padamu

budayamu adalah jurang tanpa jembatan untuk kita
aku sadar itu
tapi
aku seperti tidak peduli

masih aku membuat cerita denganmu
masih kita saling mengucapakan selamat pagi
masih kita merindu

sampai tak ada lagi kita,
mungkin aku masih membiarkan namamu mengendap dihatiku
berbekas selamanya.


No comments:

Post a Comment